Senin, 18 April 2016

Wiring diagram

Based Engine Control Panel

Visit the Be124 EC-GSM engine control panel page. You can control & monitor your diesel engine using your mobile phone. It works with standard or CANbus engines (Perkins - Deere - Volvo - Scania - Iveco - CAT- JCB). Purchase the panel or save money by purchasing the KIT of components. 

Diesel Generator Control Panel Wiring Diagram Be124

In this wiring diagram you can see the details on how to make a generator control panel using the Be124 generator controller.

Diesel Generator Control Panel Wiring PDF

BE124 Generator Controller Tutorial

Purchase the Be124 Diesel Engine Controller

You can observe the GENERATOR [1] connected to the LOAD via the CURRENT TRANSFORMERS [2] and the GENERATOR CIRCUIT BREAKER [3].The coil of the circuit breaker is driven by the GCB relay [6]. The BE124 can monitor the EARTH FAULT CURRENT via a current transformer [4]. In order to protect the cables we recommend that you use fuses of proper size [5]. You can connect driver relays [7] to the JF removable plug. [8] and [9] allow you to connect ECU and ancillary computer equipment. You can use 12 or24V battery [11]. The Be124 detects speed via a pick-up [12]. Be124 accepts analog & digital signals [13] & [18]. You are required to provide relays for starter and auxiliary equipment if required [17]. The Be124 accepts belt alternator [14] with D+ or / and 'W'.

Diesel Generator Control Panel Wiring Diagram Be24

In this wiring diagram you can see the details on how to make a generator control panel using the Be24 generator controller.

Diesel Generator Control Panel Wiring Diagram Be24

Be24 Diesel Generator Auto Start Tutorial

Purchase the Be24 Diesel Generator Auto Start

You can observe the GENERATOR [1] connected to the LOAD via the CURRENT TRANSFORMER [2] and the GENERATOR CIRCUIT BREAKER [3].The coil of the circuit breaker is driven by the GCB relay [4]. In order to protect the cables we recommend that you use fuses of proper size [4]. You can connect driver relays [6] to the output blade terminals.You can use 12 or 24V battery [11]. The Be24 detects speed via a pick-up [10]. Be24 accepts digital signals [8]. You are required to provide relays for starter and auxiliary equipment if required [15]. The Be24 accepts belt alternator [12] with D+ or / and 'W'. Relays mus be provided for FUEL SOLENOID [13], AUDIBLE SIGNAL[13].You can start directly the engine with the key switch or use a pilot relay for automatic use [14].

Generator Control Panel Equipped with BeK3 Wiring Diagram

In this wiring diagram you can see the details on how to make a generator control panel using the BeK3 generator controller. This is a general wiring digram, it indicates all features of a state-of-art AMF ATS control panels. You can reduce the number of components according to your needs.

Diesel Generator Control Panel Wiring Diagram BeK3

AMF ATS Genset Controller BeK3 Tutorial

Purchase the BeK3 AMF Controller

AFM Control Panel Tutorial

Alternative connection of the current transformers

An interesting feature is the possibility to connect the current transformers on the LOAD side. In this way you can get the current measurements when load is connected to the power utility. Please note that the over current alarm (WARNING or SHUTDOWN) are active only when the LOAD is connected to the generator. This avoids alarms when the load is normally connected to MAINS. The display clearly indicates if it is about Generator Current or Power Utility Current.

Engine connections of a generator control panel fitted with BeK3 AMF controller

The Bek3 AMF panel interfaces with automotive relays. This is the best option: in case of failure you can find an automotive plug-in realy in a shop in your street. You are required to use 90-200 OHM dc coil relays (12 V or 24V, according to your engine battery). In case of troubles, you are not required to change the controller! The Bek3 provides over voltage protection and all outputs are short circuit proof. This will add more reliability to your installation. A BEK3 AMF panel can interface with ANALOGUE and DIGITAL sensor fitted on the engine. In other words you can use any kind on diesel engine on the market. Terminals for RS485 serial interface are provided in case you need to control and monitor the panel by remote. Software is provided free of charge. You have a wide choice of accessories for MODBUS, GSM or TCP-IP monitoring. When your diesel generator is driven by an SAE J1939 compatible engine, we recommend that you connect the CANBUS port. In this case sensors are no longer necessary.The BeK3 features 3 fully adjustable outputs. You can choose, for each output, one of the 80 available options. You can adapt the panel to any state-of-art factory automation system.

Diesel Generator Control Panel Wiring Diagram Engine Connnections

Power connections of a 27kVA AMF generator control panel equipped with the BeK3 AMF controller

The recent updates IEC61439 are in force. Electric panel makers have to re-adapt the design of the panels to comply with these specifications. Complex JOB for AMF and ATS Genset Panel makers. The Bernini Design BeK3 Series Electric Panels fully comply with IEC61439-1-2-3-4-5-6-7 (https://en.wikipedia.org/wiki/IEC_61439_standard) and NFPA110 standards too. With these new rules the entire structure has been completely changed. The new line of AMF ATS panels includes the CANBUS compatible with SAE J1939. The RS485 supports completely the MODBUS-RTU standard. By using our line of 25-500kVA AMF AT

Panel listrik

Mengenal Fungsi Dan Komponen Panel Listrik

Mengenal Fungsi Dan Komponen Panel Listrik

Panel Listrik – Electrical switchboard atau lebih kita kenal dgn panel listrik terbentuk berdasarkan susunan komponen listrik yg sengaja disusun dalam sebuah papan control, sehingga dapat memudahkan penggunaanya.

Tuk lebih mengenal fungsi dari panel listrik kita telebih dahulu mengenal komponen- komponen  panel listrik dan harus memahami  fungsi dari bagian-bagaian listrik itu sendiri

Berikut beberapa komponen panel listrik beserta fungsinya yang perlu anda ketahui:


MCB,  yg singkatan dari ( Miniature Circuit Board) merupakan komponen panel listrik yang berfungsi sebagai switch pembatas arus akibat dari kenaikan daya /tegangan yg melebihi batas dan atau hubung singkat. Komponen panel listrik ini biasanya terbatas pada arus nominal kecil sampai dgn kurang dari 100 Ampere. Bentuknya ada yg satu pole (satu input dan satu output), ada yg dua pole, tiga pole hingga empat pole.


MCCB, MCCB singkatan dari Moulded Case Circuit Breaker. Circuit Breaker pembatas arus apabila terdapat arus beban yg melebihi batas-batasnya. MCCB ini dipakai hampir sama dgn MCB tetapi dgn batas arus beban yg lebih besar dari 100 Ampere sampai dgn 1600 Ampere.

GFCI/ RCCB/ ELCB, Ground Foult Circuit Interruption ialah semacam Circuit Breaker yg bereaksi lebih cepat dari MCB. Komponen panel listrik ini akan memantau listrik lebih rinci dan jika terdapat short atau kabel terkelupas dan mengenai manusia, tidak mengakibatkan kematian.

Grounding, Grounding pada instalasi dan komponen panel listrik ini berfungsi sebagai pengaman listrik. Pengaman listrik akibat dari kabel -kabel yg terkelupas dan mengenai body part peralatan elektonik atau peralatan listrik yg selanjutnya mengenai orang. Dgn adanya komponen panel listrik ini maka aliran arus listrik yg liar atau yg tak berfungsi akan dibumikan

Warna kabel. Warna kabel instalasi listrik sudah ditetapkan diberbagai negara. Tuk Indonesia, warna kabel listrik ditentukan menurut standard SNI atau standatd IEC:

a. warna merah, kuning, hitam berfungsi untuk fase

b. warna biru muda (biru laut) berfungsi untuk netral

c. warna kuning -hijau berfungsi untuk ground

CT, CT merupakan  suatu komponen panel listrik dari bahan baja / metal dalam bentuk lingkaran (ring) atau gelang persegi dan tengahnya berlubang. Fungsi dari komponen panel listrik ini yaitu sebagai penurun arus dan atau tegangan pada box panel .

Surge Arrest, peralatan atau komponen panel listrik ini sebagai pengaman listrik dari kejutan listrik yg berlebihan. Contohnya apabila ada kejadian tiba-tiba aliran listrik menjadi lebih tinggi akibat dari penambahan energi potensial


Panel Distribusi Listrik

Definisi Panel Distribusi Listrik

Panel ditribusi listrik adalah tempat menyalurkan energi listrik dari panel daya atau sumber listrik ke beban baik untuk instalasi tenaga maupun instalasi penerangan.

Persyaratan panel ditribusi listrik sesuai dengan PUIL yaitu :
a) Semua penghantar/ kabel harus disusun rapi
b) Semua komponen harus dipasang rapi
c) Semua bagian yang bertegangan harus terlindungi
d) Semua komponen sudah terpasang kuat
e) Jika terjadi gangguan tidak meluas
f) Mudah diperluas / dikembangkan jika diperlukan

g) Mempunyai keandalan yang tinggi

Gambar Diagram Panel Distribusi Listrik

Mengenal Komponen Elektronika Dan Fungsinya

 

Komponen elektronika adalah elemen terkecil dalam suatu rangkaian elektronika. Dalam rangkaian elektronika pada umumnya terdiri dari komponen aktif dan komponen pasif. Setiap komponen elektronika dibuat dengan nilai dan fungsi yang berbeda berdasarkan produsen pembuat komponen elektronikatersebut. Setiap komponen elektronikamemiliki tipe, nilai dan simbol yang berbeda-beda. Tipe dan nilai yang melekat pada suatukomponen elektronika memberikan arti fungsi dan pabrikan pembuatnya. Sedangkan simbol komponen elektronika ditentukan berdasarkan jenis dan fungsinya tanpa membedakan pabrik pembuat komponen elektronika tersebut.

Komponen elektronika dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan cara pemasangannya dan dibedakan berdasarkan fungsi dan cara kerjanya.

Jenis –Jenis Komponen Elektronika

Berdasarkan bentuk dan cara pemasangannya komponen elektronika dibedakan dalam 2 jenis yaitu jenis SMD (Surface Mount Device) dan jenis umum atau reguler.

1. Komponen Elektronika Jenis Umum (Reguler)

Komponen jenis umum adalah komponen elektronika yang secara fisik memiliki pin atau kaki dengan tujuan cara pemasangannya menggunakan PCB yang berlubang. Yaitu posisi komponen diletakan pada PCB kemudian pin atau kaki komponen pada sisi PCB yang lain untuk disolder pada jalur PCB tersebut. Beberapa komponen elektronika jenis umum dapat dilihat dalam gambar dbawah.

Komponen elektronika jenis ini pada umumnya digunakan untuk membuat sistem sederhana yang tidak menuntut fisik perangkat yang kecil atau digunakan pada perangkat atau sistem elektronik dengan daya besar.

2. Komponen Elektronika Jenis SMD (Surface Mount Device)

Komponen elektronika jenis SMD (Surface Mount Device) ini adalah komponen elektronika yang cara pemasangannya langsung ditempel dan disolder dengan PCB pada sisi jalur PCB. Komponen elektronika jenis SMD ini juga dilengkapi pin atau kaki, akan tetapi fisik kaki atau pin komponen jenis SMD ini di desain kecil dengan tujuan untuk dipasang pada permukaan jalur PCB. Pada umumnya komponen elektronika jenis SMD adalah komponen elektronika jenis terbaru seperti pada gambar berikut.

Komponen elektronika jenis SMD didesain untuk memenuhi tuntutan bentuk fisik perangkat elektronik dengan bentuk fisik yang kecil. Salah satu penerapan komponen elektronika jenis SMD ini dapat dilihat pada perangkat komputer seperti RAM, VGA dan motheboard komputer.

Kemudian berdasarkan fungsi dan cara kerjanya komponen elektronika dibedakan menjadi komponen pasif dan komponen aktif.

1. Komponen Elektronika Pasif

Komponen pasif adalah komponen elektronika yang dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan suber tegangan atau sumber arus tersendiri. Komponen pasif pada umumnya digunakan sebagai pembatas arus, pembagi tegangan, tank circuit dan filter pasif. Komponen elektronika yang digolongkan sebagai komponen pasif diantarnya adalah resistor, kapsitor, induktor,saklar dan diode. Berikut adalah definisi dan fungsi secara umum dari komponen pasif tersebut :

a. Resistor

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai penghambat/pembatas arus listrik. Berikut adalah simbol dan salah satu bentuk fisik resistor.

Dalam aplikasinya resistor dapat dirangkai secara seri dan paralel, pada rangkaian seri maka resistor dapat difungsikan sebagai pembagi tegangan dengan karakteristik nilai resistor akan bertambahsesuai dengan nilai resistor yang dihubung seri tersebut. Kemudian resistor pada konfigurasi paralel resistor berfungsi sebagai pembagi arus dan memiliki karkateristik nilai resistansi menjadi lebih rendah berbanding terbalik dengan jumlah dan nilai resistansi resistor yang diparalel.

b. Kapasitor

Kapasitor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menyimpan muatan listrik sementara. Bentuk fisik salah satu kapasitor dan simbol kapasitor dapat dilihat seperti pada gambar berikut.

Besar kecilnya muatan listrik yang dapat disimpan olehkapasitor sebanding dengan nilai kapasitas kapasitor tersebut. Selain sebagai penyimpan muatan listrik kapasitor juga dapat digunakan sebagai penghubung atau coupling sinyal atau isyarat AC dalam suatu rangkaian pemroses sinyal.

c. Induktor

Induktor atau kumparan adalah komponen elektronika yang dibuat dari kawat email yang dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki nilai reaktansi. Induktor dapat digunakan untuk menahan arus AC dan melewatkan arus DC. Bentuk dan simbol induktor secara umum dapat dilihat pada gambar berikut.

Induktor bersama resistor dan kapasitor dapat digunakan sebagaisuatu filter atau tapis dalam rangkaian pemroses sinyal. Induktor dapat banyak di jumpai dalam perangkat elektronika yang bekerja sebagai pemroses sinyal radio.

d. Saklar

Saklar adalah komponen elektronika yang bekerja sebagai pemutus atau pemilih sinyal secara mekanik. Saklar memiliki dua bagian utama yaitu kontaktor dan tuas saklar.Salah satu bentuk dan simbol saklar dapat dilihat pada gambarberikut.

Dalam menjalankan tugasnya saklar membutuhkan operator sebagai penggerak tuas. Operator tuas saklar dapat berupa suatu sistem elektro mekanis maupun operator manusia secara manual.

e. Diode

Diode adalah komponen pasif yang dibuat dari bahan semikonduktor. Dioda berfungsi untukmengalirkan arus listri DC dalam satu arah saja. Dioda dibangun menggunakan dua lempeng bahan semikonduktor tipe P dan tipe N. Simbol dan salah satu bentuk fisik dioda dapat dilihat pada gambar berikut.

Dioda memiliki 2 kaki yaitu kaki Anoda dan Kaki Katoda, pada prinsipnya dioda akan mengalirkan arus DC dari Anoda ke Katoda. Pada aplikasi lain dioda dapat berfungsi sebagai penyearah gelombang AC.

2. Komponen Elektronika Aktif

Komponen aktif adalah komponen elektronika yang dalam pengoperasiannya membutuhkan sumber tegangan atau sumber arus dari luar. Ada banyak tipe komponen aktif yang digunakan dalam rangkaian atau sitem elektronika. Secara umum komponen aktif dibangun mengunakan bahan semikonduktor yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki fungsi, nilai dan kapasitas sesuai kebutuhan yang diinginkan. Beberapa contoh komponen aktif adalah.

a. Transistor

Transistor merupakan komponen aktif yang dibangun dari tiga lempeng semikonduktor tipe P dan tipe N. Transistor dapat berfungsi sebagai penguat sinyal dan dapat jugaberfungsi sebagai saklar elektronik. Berikut adalah salah satu contoh dan simbol transistor.

Transistor Bipolar

Transistor Unipolar

Transistor terdiri dari dua tipe yaitu transisor NPN dan PNP. Kemudian dari dua tipe tersbut transistor dibagi lagi mejadi dua jenis menjadi transistor bipolar dan transistor unipolar. Transistor bipolar memiliki 3 kaki yaitu basis, colektor dan emitor, sedangkan transistor unipolar memiliki tiga kaki yaiut gate , source dan drain.

b. Thyristor

Thyristor disebut juga dengan SCR ( Silicon Controlled Rectifier) dan banyak digunakan sebagai saklar elektronik. Thyristor sering digunakansebagai saklar elektronik pada rangkaian listrik yang bekerja dengan sumber tegangan AC. Thyristor merupakan pengembangan dari diode dan memiliki 3 kaki yaitu gate, anoda dan kathoda. Berikut adalah salah satu bentuk dan simbol thyristor.

Thyristor ini akan bekerja atau menghantar arus listrik dari anoda ke katoda jika pada kaki gate diberi arus kearah katoda, karenanya kaki gate harus diberi tegangan positif terhadap katoda.

c. Transducer

Transducer adalah komponen elektronika yang dapat mengubah besaran fisik menjadi besaran listrik atau sebaliknya mengubah besaran listrik menjadi besaran fisik. Transducer yang berfungsi untuk mengubah besaran fisik menjadi besaran listrik sering disebut sebagai sensor. Kemudian transducer yang berfungsi untuk mengubah besaran listrik menjadi besaran fisik sering digunakan sebagai indikator atau aktuator. Contoh umum transducer sebagai sensor antara lain NTC, PTC, LDR, Phototransistor dan Solarcell. Kemudian contoh transducer yang mengubah besaran listrik menjadi besaran fisik adalah LED, Loud Speaker, Motor Listrik dan Relay.

Dasar – Dasar Instalasi Listrik

Standarisasi dan Persyaratan
Tujuan standarisasi ialah mencapai keseragaman antara lain mengenai
1. Ukuran , bentuk dan mutu barang.
2. Cara menggambar dan cara kerja
Dengan makin rumitnya konstruksi dan makin meningkatnya jumlah dan jenis barang yang dihasilkan, standarisasi menjadi suatu keharusan.
- Standarisasi juga mengurangi pekerjaan tangan maupun pekerjaan otak. Dengan tercapainya standarisasi, mesin-mesin dn alat-alat dapat dipergunakan secara lebih baik dan lebih efisien, sehingga dapat menurunkan harga pokok dan meningkatkan mutu.
- Standarisasi membatasi jumlah jenis bahan dan barang, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan.
Peraturan umum untuk instalasi cahaya dan tenaga.

1. Semua alat hubung dan perlangkapan pembagi pesawat listrik, motor listrik, hantaran dari alat-alat harus memenuhi peraturan dan pemeriksaan yang berlaku untuk itu.
2. Hal tersebut di atas tidak berlaku untuk tegangan yang lebih dari pada yang ditetapkan.
3. Tegangan untuk instalasi penerangan arus bolak-balik tidak boleh lebih tinggi dari 300 volt terhadap tanah.
4. Instalasi harus terdiri dari paling sedikit dua golongan. Terkecuali jika instalasi tersebut tidak lebih dari 6 titik hubung. Tiap golongan tidak lebih dari 12 titik hubung, untuk pemasangan yang baru tidak lebih dari 10 titik. Ketentuan di atas tidak berlaku untuk penerangan reklame, pesta dan yang bersifat istimewa seperti pada toko.
5. Setiap golongan penerangan, pembagian arusnya harus sama rata pada bagian fasenya.
Instalasi Rumah Tinggal

Untuk pemasangan suatu instalasi listrik lebih dahulu harus dibuat gambar-gambar rencananya berdasarkan denah bangunan, dimana instalasinya akan dipasang jika spesifikasinya dan syarat-syarat pekerjaan yang diterima dari pihak bangunan / pemesan. Harus diperhatikan spesifikasi dan syarat pekerjaan ini menguraikan syarat yang harus dipenuhi pihak pemborong, antara lain mengenai pelaksanaannya material yang digunakan, waktu penyerahannya dan sebagainya.
Gambar-gambarnya harus jelas, mudah dibaca dan dimengerti. Gambar denah bangunannya biasanya disederhanakan. Dinding-dindingnya digambar dengan garis tunggal agar tipis, saluran-saluran listriknya karena lebih penting maka digambar lebih tebal. Supaya gambarnya rapi harus dipilih tebal garis yang tepat.

Menurut ayat 401B3, gambar-gambar yang diperlukan yaitu :
Gambar situasi, untuk menyatakan letak bangunan dimana sintalasinya akan dipasang, serta rencana penyambungan dengan jaringan PLN.
A) Gambar Instalasinya meliputi :
- Rencana penempatan semua peralatan listrik yang akan dipasang dan sarana peralatan, misalnya titik lampu, sakelar, kontak-kontak, perlengkapan hubung bagi.
- Rencana penyambungan peralatan listrik dengan alat pelayanannya misalnya antara lampu dengan sakelarnya, motor dan pengasutnya dan sebagainya.
- Hubungan antara peralatan listrik dan sarana pelayanannya dengan perlengkapan hubung bagi yang bersangkutan.
- Data teknis penting dari setiap peralatan listrik yang akan dipasang

B) Diagram instalasi garis tunggal meliputi :
- Diagram perlengkapan hubung bagi dengan keterangan mengenai ukuran/daya nominal setiap komponen.
- Keterangan mengenai beban yang terpasang dan pembaginya.
- Ukuran dan jenis hantaran yang akan digunakan.
- System pentanahannya.

C) Gambar perincian atau keterangan yang diperlukan misalnya :
- Perkiraan ukuran fisik perlengkapan hubung bagi.
- Cara pemasangan alat-alat listriknya
- Cara pemasangan kabelnya.
- Cara kerja instalasi kontrolnya kalau ada.

Alat-alat dan bahan yang umum dalam pembuatan instalasi listrik rumah tinggal.
- Penghantar / kabel.

- Pipa PVC untuk pengkabelan yang di tanam di dalam tembok dengan ukuran standart.

- Kotak cabang(T-Dos / Cross-Dos).

- L-bo untuk tikungan pada pipa.

- Rol isolator bila digunakan.
- Klem pipa.

- Sekrup ukuran yang sama dengan klem pipa.

- Saklar (sakelar tunggal, sakelar ganda, sakelar seri, sakelar tukar/sakelar hotel dsb) apa yang diperlukan.

- Stop kontak.

- Lampu (tergantung lampu apa yang perlu digunakan).

- Kotak Hubung Bagi (digunakan jika instalasi lebih dari 12 titik).
- Sekring / MCB.

- Obeng + dan obeng -.

- Tang kombinasi, tang potong, tang cucut dsb.

- Palu.

- Jangan lupa! Yang terpenting dalam pekerjaan instalati 
adalah TESTPEN 

Komponen listrik

KOMPONEN-KOMPONEN YANG SERING DIGUNAKAN PADA PEMBUATAN PANEL LISTRIK

1.BOX PANEL

 Box Panel adalah bagian luar dari panel yang berfungsi sebagai tempat dari rangkain-rangakaian panel itu sendiri. Box Panel ini terbuat dari bahan logam, oleh karena itu dalam rangkaian panel diberi ground agar aman bagi pengguna.

2. MCCB

MCCB merupakan salah satu alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung.
Jika dilihat dari segi pengaman, maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada jenis tertentu pengaman ini, mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

3. MCB

adalah singkatan dari Miniature Circuit Breaker, Fungsi MCB adalah sebagai peralatan pengaman terhadap gangguan hubung singkat dan beban lebih yang mana akan memutuskan secara otomatis apabila melebihi dari arus nominalnya
MCB biasanya digunakan oleh PLN sebagai pembatas daya pada pelanggan pelanggan daya rendah (daya 450VA - 33.000VA). Letaknya dibawah kWh meter dan didalam panel bagi instalasi (biasanya didalam ruangan).

4. NFB

NFB diartikan sebagai pemutus tanpa sikring, berfungsi untuk menghubungkan dan memutus tegangan/arus utama dengan sirkuit atau beban, selain itu berfungsi juga untuk memutuskan/melindungi beban dari arus yang berlebihan ataupun jika terjadi hubung singkat. Cara kerja NFB, ketika arus yang mengalir melaluinya melebihi dari nilai yang tertera pada NFB maka secara otomatis NFB akan memutuskan arusnya gambar diatas adalah NFB 3 Phase umumnya digunakan pada sirkuit induktion motor atau control panel.

5. BUSBAR

Busbar adalah salah satu komponen inti kedua setelah breaker.Busbar merupakan komponen penghantar listrik yang dapat memadai arus dan tegangan listrik kaoasitas besar.Busbar yang sangat umum an memang sudah lazim dipakai untuk perakitan panel terbuat dari tembaga.Karena tembaga memiliki tingkat korosi yang sangat kecil atau bahkan 0% korosi akan tetapi ada yang lebih baik dari tembaga yakni emas.Emas merupakan penghantar yang paling bagus karena memiliki tingkat karat yang lebih rendah atau sama sekali tidak memiliki tingkatan karat.

6. FUSE

Fuse adalah alat pengaman listrik yang paling familiar dan sering kita jumpai. Fuse terpasang dalam rangkaiaan listrik tersusun secara seri, sehingga jika terlewati arus yang melebihi kapasitas kerja dari fuse tersebut, maka fuse akan terbakar dan memutus arus yang ada dalam rangkaian tersebut. Element penghantar yang terdapat dalam fuse tersebut akan meleleh, dan memutus rangkaian listrik tersebut sebagai pengaman terhadap komponen-komponen lain dalam rangkaian listrik tersebut dari bahaya arus besar

7.VOLTMETER

Voltmeter adalah alat/perkakas untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Voltmeter disusun secara paralel terhadap letak komponen yang diukur dalam rangkaian. Alat ini terdiri dari tiga buah lempengan tembaga yang terpasang pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung kaca atau plastik.

8. AMPEREMETER

Amperemeter adalah alat untuk mengukur kuat arus. Bagian terpenting dari Ampermeter adalah galvanometer. Galvanometer bekerja dengan prinsip gaya antara medan magnet dan kumparan berarus. Galvanometer dapat digunakan langsung untuk mengukur kuat arus searah yang kecil. Semakin besar arus yang melewati kumparan semakin besar simpangan pada galvanometer. Ampermeter terdiri dari galvanometer yang dihubungkan paralel dengan resistor yang mempunyai hambatan rendah. Tujuannya adalah untuk menaikan batas ukur ampermeter. Hasil pengukuran akan dapat terbaca pada skala yang ada pada ampermeter.

9. TRAVO ARUS (CT)

Current transformer (CT) atau Trafo Arus adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berupa trafo yang digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya hingga ratusan ampere dan arus yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga digunakan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh, dan rele proteksi. Kumparan primer trafo dihubungkan seri dengan rangkaian atau jaringan yang akan dikur arusnya sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau dengan rele proteksi.

10. SELECTOR SWITCH

Pada dasarnya Selector Switch adalah kontak/saklar yang digerakkan oleh tombol atau tuas putar untuk memilih satu dari dua atau lebih posisi. Ada yang berlaku seperti toggle switch dimana  selektor dapat berhenti pada satu posisi, dan ada yang berlaku seperti push button, dimana setelah melakukan pemilihan maka seletor akan kembali ke posisi semula atau posisi netral.

11. LAMPU INDIKATOR

Lampu indikator sebagai penanda untuk mengetahui apakah rangkaian bekerja dengan normal ,bisa juga sebagai tanda peringatan bahwa terjadi sesuatu pada rangkaian panel tenaga listrik.

12. KABEL / PENGHANTAR

Kabel listrik adalah media untuk menyalurkan energi listrik. Sebuah kabel listrik terdiri dari isolator dan konduktor.

13. COSPHI METER

Cosphimeter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui, besarnya faktor kerja (power factor) yang merupakan beda fase antara tegangan dan arus. Dalam pengertian sehari-hari disebut pengukur Cosinus phi (f ). Tujuan pengukuran Cos f  atau pengukur nilai cosinus sudut phasa.

14. FREKUENSI METER

Frekuensi Meter adalah alat untuk mengukur frekuensi. Frekuensi yang diukur merupakan frekuensi tunggal dan digunakan untuk monitoring perubahan frekuensi listrik dari PLN.




Minggu, 17 April 2016

Relay pada mobil

Relay Pada Mobil Dan Sistem Starter



Relay adalah semacam saklar yang digerakan listrik. Loh saklar listrik kok digerakan listrik? Apa maksudnya? Contohnya relay lampu, jika lampu menggunakan lampu halogen 120 watt misalnya. Berarti harus menggunakan kabel yang kuat 120 watt/12 volt = 10 Ampere. Sementara lampu asli dari pabrik bawaan hanya 60 watt (misalnya) yang memakai kabel dengan KHA(Kekuatan Hantar Arus) 5 Ampere. Jika lampu 60 watt ini diganti 120 watt maka kabel KHA 5 A dilewati arus 10 A, yah kabel jadi panas.. melepuh dan hangus. Yang memicu konsrtleting dan kebakaran. Jadi kabel KHA 5A harus diganti kabel KHA 10A. Masalahnya :

- Ganti kabel hingga switch di dashboard --> repot dan mahal
- kabel KHA 10A jadi panjang --> mahal juga

Jadi digunakan relay. Dengan relay ini maka saklar didashboard seolah dipindahkan dekat lampu dan accu. Saklar di dashboard digunakan untuk menyaklar relay yang berada di dekat lampu dan accu. Karena arus yang digunakan untuk menggerakan relay sangat kecil, sekitar 0.07 A - 0.14 A maka instalasi kabel yg KHA 5A tadi tidak usah diganti. Selanjutnya penyaklaran lampu dilakukan oleh relay. Relay lampu biasanya bisa menyaklar arus hingga 30 - 40 A. Nah baru kabel dari accu ke lampu yang disaklar relay menggunakan kabel besar, misalnya pakai kabel KHA 10 A. Agar kabel besar tidak berpanjang-panjang maka relay diletakan di dekat accu dan lampu atau dinamo starter.

Bagaimana cara kerja relay?


Pada gambar diatas adalah relay 5 kaki, pada relay 4 kaki maka tidak ada kaki 87a. Terlihat antara kaki 85 dan 86 terdapat kumparan/koil. Koil ini jika dialiri listrik maka menjadi magnet yang menarik saklar kearah kaki 87, jika tidak ada arus pada koil maka saklar terlepas kembali ke titik 87a. Jika antara kaki 85 dan 86 tidak terdapat arus yang mengalir maka saklar tetap parkir di 87a, menghubungkan kaki 30 dan 87a, hubungan kaki 30 dengan kaki 87 terputus. Pada relay 4 kaki berarti hubungan kaki 30 dengan kaki 87 terputus. Tapi jika dialiri arus pada  kaki 85 dan 86 maka saklar tertarik parkir di kaki 87, menghubungkan kaki 30 dengan kaki 87. Jadi dengan meng-ON-OFF-kan listrik pada  kaki 85 dan 86 maka hubungan  kaki 30 dengan kaki 87 juga jadi ikut ON-OFF.. ini yang disebut relay. ON-OFF pada kaki 85 dan 86 hanya butuh arus 0.07 A - 0.14 A,  sementara saklar kaki 30 dan 87 mampu mengalirkan arus hingga 30 - 40 A.

Aplikasi pada lampu misalnya :


Aplikasi pada dinamo starter :
Biasanya relay digunakan untuk menyaklar solenoide starter, padahal  solenoide starter itu juga relay :D .


Pada sistem starter diatas terlihat kabel kontak-relay dan kontak accu pakai kabel KHA 0.5 A sementara kabel relay-dinamo-accu pakai kabel KHA 30 A.



Pada sistem starter diatas, kaki 30 terpasang ke accu melalui sebuah sekering. Titik 30 ini SELALU pada tegangan sekitar 12 volt. Kaki 87 terhubung ke trigger solenoid starter. Atau bisa jadi terbalik pemasangannya, titik 30 ke solenoid dan titik 87 ke (+) accu. Asumsinya selanjutnya adalah titik 87 ke solenoid dan titik 30 ke (+) accu.

Solenoid starter

Solenoid selalu terpasang pada dinamo starterTitik 86 terhubung dengan kontak, jika kontak on maka ada tegangan sekitar 12 volt pada titik 86. Memeriksanya pakai AVOmeter atau Multimeter atau Testpen DC atau gunakan lampu mobil/motor 12 volt sebagai lampu test . Hubungan (-) lampu (yang ada ulirnya) dengan (-) accu. Tempelkan (+) lampu (yg menonjol) ke titik 86. Lampu test seharusnya menyala jika kontak on, dan mati jika off. Jika lampu test  selalu mati dan accu bagus (bisa cek juga dengan lampu) dan ada tegangan 12 volt di titik 30 (lampu test nyala di titik 30),  berarti ada masalah di kontak dan atau di kabelnya.

Jika lampu test tidak menyala saat ditempelkan di titik 30 maka berarti ada kabel atau sekering yang putus.

Jika lampu test selalu menyala di titik 30, dan nyala-mati di titik 86 mengikuti kontak, tapi tidak nyala di titik 87 berarti relay rusak. Untuk daruratnya, cabut relay dan hubungkan titik 86 dengan titik 87 memakai kabel.
Lampu DC 12 volt sebagai lampu testSangat dianjurkan untuk mempunyai Testpen DC :

Testpen DC sumber gambar : danangedewa.com
Contoh penggunaannya : Capit buaya di jepitkan pada massa/body mobil atau (-) accu. Ujung obeng ditempelkan pada titik yang ditest.

gambar : otomodif.otomotif.com
















Berbagi rumus

berbagi rumus listrik

Disini saya tidak bermaksud untuk menggurui atau berniat yang bukan2,tetapi saya cuma ingin berbagi rumus berdasarkan pengalaman dikerjaan.Mungkin kalau ada yang lebih detail mengenai rumus ini bisa juga berbagi kepada saya khususnya atau orang lain umumnya,terimakasih.

Mencari rumus setting over load motor listrik 3 phasa dan besaran kontaktor dan MCCB yang digunakan.

misal  :

motor 3 phasa  = 18,5 kw (tertera di name plate)

cos ϕ = 0,88

thermal overload 35 A = 24 s/d 36 A (untuk settingan overload)

thermal overload 20 A = 18 s/d 22 A

berapa setting overload,jika thermal overload terpasang diatas kontaktor ?

diketahui :

P = 18,5 kw =18500 w

v = 380 v

maka :

I = P / v.cos ϕ.√3

  = 18500 / 380.0,88.1,73

  = 18500 / 578,512

  = 31,97 A (untuk settingan overload jika thermal overload terpasang diatas kontaktor)

Jika thermal overload terpasang dibawah kontaktor,maka :

setting overloadnya :

  = 31,97 / √3

  = 31,97 / 1,73

  = 18,48 A (untuk settingan overload jika thermal overload terpasang dibawah kontaktor)

Menentukan kontaktor yang di gunakan untuk rangkaian Star-Delta,tentukan terlebih dahulu 

Kontaktor Star nya.Untuk menentukan kontaktor Star,diambil dari hasil perhitungan setting 

over load di atas kontaktor,yaitu :

I = 31,97 A dibulatkan menjadi 32 A

maka kontaktor yang digunakan adalah 32 A (untuk kontaktor Star)

Untuk menentukan Main Kontaktornya,yaitu :

  = 32 A x √3

  = 32 x 1,73

  = 55,36 A

Karena ada arus kejut dari perpindahan Star ke Delta maka hasil dari 55,36 A dikalikan lagi 

dengan √3 menjadi :

  = 55,36 x 1,73

  = 95,77 A

Jadi kontaktor yang digunakan untuk Main Kontaktor adalah : 100 A (pembulatan dari 95,77)

yang juga digunakan untuk kontaktor Delta.

Untuk MCCB yang digunakan adalah :

  = 32 A x √3

  = 32 x 1,73

  = 55,36 A

Maka MCCB yang digunakan adalah : 60A (pembulatan dari 55.36)

Pln mati genset langsung menyala

Panel AMF ( Automatic Mains Failure ) adalah panel yang biasanya digunakan untuk merujuk pada sistem otomatisasi dalam keadaan dimana sumber daya utama / PLN dalam keadaan tidak berfungsi / padam, maka panel AMF secara otomatis menginstruksikan sumber daya cadangan (genset) untuk mulai bekerja untuk menggantikan sumber daya utama / PLN. Penggunaan AMF didukung oleh ATS (Automatic Tranfer Switch) yang akan memindahkan beban secara otomatis dari sumber daya utama (PLN) yang telah padam ke sumber daya cadangan (genset) Spoiler for cara kerja  Meskipun panel ATS-AMF dirancang untuk bekerja secara otomatis tanpa bantuan operator, bukan berarti bisa ditinggalkan tanpa peduli sama sekali. sering terjadi persepsi yang salah, karena dianggap akan bekerja secara otomatis, pemeliharaannya diabaikan begitu saja. Pengabaian perawatan dapat mengakibatkan kegagalan sistem. Ada beberapa hal yang harus di perhatikan untuk sistem otomatisasi agar dapat bekerja dengan baik,diantaranya : Pemasangan panel dalam ruangan yang bersih dan tidak lembab / basah dan tidak terkena hujan (jika memang tidak terhindari, harus menggunakan panel yang memiliki spesifikasi dapat untuk penggunaan outdoor). Hindari menginstal panel di tempat yang menimbulkan getaran. Getaran dapat mengakibatkan relay copot (Jika ATS/AMF dengan sistem relay) ataupun copotnya solderan pada modul (dalam jangka waktu panjang), jika tidak terhindarkan hendaknya dibuat peredam getaran. Kabel kontrol harus terlindungi dari gangguan tikus dan binatang lainnya, tutup semua lubang sehingga hewan tidak dapat masuk. Selalu periksa kondisi sistem pengisian baterai. Wajib untuk melakukan Pemeriksaan level air accu secara berkala Tegangan baterai/accu harus dipertahankan >12.5 VDC pada sistem generator dengan baterai 12 VDC, dan >27 VDC pada sistem 24V, dan pastikan kabel baterai/accu terpasang ke dengan kencang untuk menghindari terjadinya percikan api. jika kurang dari tegangan tersebut, maka dapat dipastikan akan terjadi kegagalan start. Periksa kondisi air radiator. Periksa juga kondisi pipa / selang bahan bakar dan sistem pemipaan bahan bakar secara keseluruhan, dapat juga terjadi (karena jarang digunakan) masuk angin palsu pada sistem input bahan bakar — dari tangki menuju injection pump– dipastikan akan terjadi gagal start dalam hal ini. Periksa kondisi filter solar, sebaiknya dilengkapi dengan pemisah air untuk memisahkan kandungan air di dalam bahan bakar agar tidak masuk kedalam sistem pembakaran. Periksa juga kondisi filter oli dan juga kondisi oli. Periksa kondisi kabel pada generator, hindari kabel bersentuhan dengan sudut panas dan tajam. berikan pengaman agar kabel tidak rusak. Pastikan genset dalam keadaan baik, pada beberapa panel AMF sistem ini juga dilengkapi dengan fasilitas pemanasan otomatis, jika tidak dilengkapi dengan sistem pemanasan, dapat dilakukan pemanasan 1 minggu 1x selama 15 menit tanpa beban. jika ingin diberikan beban juga tidak masalah, dengan mematikan sumber daya utama (PLN) selama 15-30 menit. Dengan memperhatikan hal diatas, kegagalan sistem otomatisasi dalam panel AMF akan mendekati angka nol (99,9% uptime). Panel ATS/AMF terdiri dari beberapa bagian utama meliputi : Perubahan sistem yang berfungsi sebagai switch, bisa berupa MCCB, kontaktor ataupun solenoid (misalnya merk: takada, kyritsu, korps) Metering yang berfungsi sebagai indikator. batere charger untuk mempertahankan tegangan batere Modul pengendali yang berfungsi sebagai menhidupkan dan mematikan genset (dapat berupa relay ataupun modul elektronik)

Sabtu, 16 April 2016

Cara kdrja exiter

Cara Kerja Exciter di Generator

Assalamu'alaikum Wr. Wb,
saya akan coba berbagi pengetahuan yang saya miliki kepada teman teman semua. postingan yang saya buat ini adalah tentang cara kerja Exciter di generator. Kita mulai saja ya..

Exciter merupakan alat yang digunakan untuk membangkitkan arus listrik DC untuk disalurkan ke rotor generator. Generator sendiri merupakan perlatan yang berfungsi untuk membangkitkan energi listrik dengan cara mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Pada pembangkit PLTU ataupun pembangkit lainnya, exciter dan generator dipasang 1 poros dengan turbin. Gambar berikut menunjukkan exciter dan generator.

 

Generator, turbin dan exciter yang terhubung 1 poros

Exciter membangkitkan arus listrik DC dan disalurkankan ke kumparan rotor sehingga timbul medan magnetik.   Ketika rotor diputar akan menimbulkan induksi magnetik di sisi stator. 

Exciter terdiri atas 2 jenis, yaitu:

1. Pilot Exciter

Pilot Exciter merupakan exciter mula yang digunakan untuk membangkitkan listrik AC untuk disalurkan menuju main exciter. Pilot exciter memiliki rotor berupa magnet batang dan stator yang berupa kumparan. Ketika poros turbin bergerak akibat pergerakan turbin, maka akan poros eksiter akan bergerak sehingga menyebabkan poros pilot exciter berputar. Perubahan fluks magnet yang memotong kumparan inilah yang menyebabkan timbulnya arus listrik AC. 

2. Main Exciter

 Main exciter merupakan exciter yang berfungsi untuk membangkitkan arus listrik AC untuk disalurkan menuju rotor generator. Rotor pada main exciter bukan merupakan magnet batang, melainkan kumparan. Konstruksi dari main exciter hampir dikatakan sama dengan konstruksi Generator dimana rotornya merupakan kumparan(armature/winding)

 

Rotor  dan stator

Listrik AC yang dihasilkan pilot exciter akan diubah terlebih dahulu oleh Regulator AVR untuk diubah menjadi listrik DC. Listrik DC ini lah yang akan digunakan untuk menimbulkan medan magnetik pada rotor. 

Proses eksitasi

Perhatikan gambar berikut ini!

 

sistem eksitasi tanpa sikat 

Pada gambar terlihat pilot exciter yang memiliki rotor berupa magnet batang. Pilot exciter akan menghasilkan listrik AC yang akan disalurkan menuju regulator AVR. Alat ini berfungsi untuk mengubah arus listrik AC menjadi listrik DC. Selain itu, alat ini juga berfungsi untuk mengatur banyaknya eksitasi yang diperlukan untuk disalurkan ke main exciter/generator exciter. Arus DC yang dihasilkan akan disalurkan ke induktor/kumparan (rotor main exciter) sehingga akan timbul medan magnetik pada rotor. Medan magnetik ini akan berputar dan memotong kumparan stator sehingga akan timbul induksi listrik AC. Listrik AC ini akan disalurkan menuju rectifier untuk diubah lagi arus listriknya menjadi listrik DC. Listrik DC ini lah yang akan disalurkan menuju rotor generator sehingga timbul medan magnetik. Perpotongan garis gaya medan magnet didalam generator akan menimbulkan listrik pada stator dan disalurkan ke gardu induk.

Jadi bisa dikatakan main exciter dengan generator memiliki fungsi dan konstruksi yang hampir sama.

Semoga artikel ini dapat membantu ya....